Selasa, 05 Januari 2010
Festival Museum Nusantara
Minggu, 30 November 2008
Prof Astrid Susanto PhD
Ahli Sosiologi Komunikasi
Guru Besar Sosiologi Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, yang juga terjun dalam dunia politik (anggota DPR/MPR), ini meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Kamis 13 April 2006 pukul 08.55 WIB. Jenazah puteri bangsa bernama lengkap Prof Dr Maria Antonia Astrid Sunarti Susanto, ini dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta, Jumat 14/4 pukul 11.00.
Puteri bangsa kelahiran Makassar, 4 Januari 1936, anak kedua dari lima bersaudara, putri Prof Sunario, SH, mantan menteri luar negeri RI, ini meninggal akibat mengalami komplikasi. Menurut putra tertuanya, Airlangga (40), kepergiannya dirasa mendadak sekali. Sebab sudah lama Astrid tidak pernah sakit, dan tidak ke dokter, setelah tahun 1989 dioperasi jantung dengan teknik gelembung balon. Setelah itu ia sehat-sehat saja.
Baru Rabu pagi, ia merasa badannya lemas sekali. Lalu dibawa ke UGD (Unit Gawat Darurat) RS Harapan Kita. Diagnosa awal, ia terkena stroke. Kemuadian ketahuan ia menderita diabetes. Sebelumnya penyakit ini tak pernah terdeteksi. Lalu Kamis pagi, sekitar pukul 03.30, ia mengalami serangan jantung. Pukul 07.30 kondisinya kritis, dan kemudian meninggal.
Isteri dari Ir Bambang Susanto, yang sudah lebih dulu meninggal dunia, itu meninggalkan tiga putra dan dua cucu. Dia dikenal sebagai pribadi yang mandiri dan berdisiplin. Sejak kecil, Astrid memang berdisiplin keras, dan berani mengemukakan pendapat.
Astrid menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di SD Ungaran, Yogyakarta (1948), SMP Santa Ursula, Jakarta (1953) dan SMA-B Santa Ursula, Jakarta (1956). Lalu memperoleh gelar sarjana publisistik (Dra) dari Universitas Westfaelische, Muenster, Jerman Barat (1960). Kemudian memperoleh gelar doktor (PhD) dari Universitas Frei, Jerman Barat (1964), dengan disertasi Kekuatan-kekuatan Politik di Belakang Terbentuknya Dewan Pers di Inggris.
Astrid yang senang membaca, merajut, menyulam, dan tusuk silang, ini memulai karir sebagai dosen Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran, Bandung sampai dia menjabat Dekan (1971-1975). Kemudian dia menjadi dosen Ilmu Komunikasi dan Sosiologi Pembangunan UI (1976- 2006).
Sempat menjabat Kepala Biro Penerangan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Bappenas (1974-1983) dan Asisten Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Negara (1983-1988).
Tahun 1987-1992, ia menjadi Anggota MPR dari Utusan Golongan. Pada era reformasi, Astrid ikut mendeklarasikan Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) yang mengantarkannya menjadi Anggota Fraksi PDKB DPR/MPR (2002).
Kemudian, karena dia berseberangan dengan para kerabatnya di PDKB, Astrid kemudian masuk Fraksi Kesatuan Bangsa Kebangsaan Indonesia (F-KKI) (2002-2004).
Sampai akhir hayatnya, ia aktif sebagai dosen Program Pascasarjana (S-2 dan S-3) UI Jakarta, Universitas Sahid Jakarta, dan Universitas Hassanudin Makassar. Salah satu bukunya berjudul Komunikasi Teori dan Praktek dan Filsafat Ilmu Komunikasimenjadi buku wajib mahasiswa komunikasi.
Sebagai ilmuwan dan akademisi ia tak pernah berhenti. Bahkan menjelang akhir hayat, Astrid tengah menulis empat buku yang dikerjakan secara berbarengan. Di antaranya buku teks terjemahan dan dua buku baru, satu di antaranya berjudul Indonesia di Awal Abad 21. ►e-ti
***(Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Wartawan Tiga Zaman
Wartawan Tiga Zaman
SK Trimurti, wartawan tiga jaman, pejuang dan mantan Menteri Perburuhan kelahiran 11 Mei 1912 itu meninggal dunia dalam usia 96 tahun, Selasa 20 Mei 2008 di RS Pusat Angkatan Darat, Jakarta. Jenazah mantan istri mendiang penulis naskah proklamasi Sayuti Melik itu sebelum dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Rabu 21/5 disemayamkan di rumah duka RSPAD, Jakarta dan di Gedung Pola, Jakarta.
Sementara, rumah dukadi ujung Jalan Palem V No. F/1001, Jakasetia, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, terlihat sepi.
Menurut puteranya, Heru Baskoro, sebelum wafat, SK Trimurti sempat dirawat selama dua minggu dirawat di ruang perawatan intensif karena tekanan darahnya sangat rendah. Namun, setelah kondisinya sempat membaik dipindahkan ke ruang perawatan umum. Namun, Selasa pagi kondisinya kembali kritis. SK Trimurti mengalami pendarahan karena kejang pada bagian perutnya. Wartawan tiga jaman itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 18.20.
Banyak tokoh dan sahabat melawat jenazah saksi Proklamasi 17 Agustus 1945 itu. Di antaranya Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, dan kerabat dekat almarhumah.
Puteri pasangan Salim Banjaransari Mangunsuromo dan Saparinten binti Mangunbisomo itu pernah menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II. Dari perkahannya dengan Sayuti Melik lahir dua orang putra yakni Moesafir Karma Boediman (MK Boediman) dan Heru Baskoro
Nama SK Trimurti begitu melegenda dalam dunia jurnalisme Indonesia. Dia adalah wartawan senior yang hidup tiga zaman. Pada zaman penjajahan Belanda sudah menjalani hidup di bui (1936-1943) karena idealisme dan karya jurnalistiknya. Bahkan, dia harus melahirkan anak keduanya di lorong penjara ketika itu. Di usia tua, hidupnya tetap penuh semangat, penuh canda dan tampak semakin enteng saja menjalani hidup.
Pesat, Bedug, dan Genderang yang sudah tidak lagi terbit adalah contoh nama-nama media majalah tempat dia pernah berlabuh menuangkan kemampuan intelektual jurnalistik untuk membangun bangsa.
Perempuan bertubuh mungil kelahiran tahun 1912 ini adalah istri Sayuti Melik tokoh terkenal pengetik naskah otentik Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Mereka menikah tahun 1938 namun 31 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1969 Sayuti Melik setelah menikah lagi harus menjadi mantan suami yang tetap dia hormati.
Wartawan tiga jaman itu tetap rajin latihan yoga sehingga dia dengan mudah dapat mencium lutut. Di usia tua perawakan tubuhnya tetap mungil, sikapnya tetap ramah, hidupnya tetap penuh semangat, rasa humornya masih tetap menampilkan canda dan kelihatannya dia semakin enteng saja menjalani hidup.
Karena orang terbiasa mengenalnya dengan nama S.K. Trimurti atau Soerastri Karma Trimurti membuat nama yang sudah masuk dalam catatan sejarah Indonesia modern tersebut terlupakan sebagai nama yang tak lebih dan tak kurang hanyalah samaran belaka.
Karma dan Trimurti adalah nama samaran yang dia pakai secara bergantian untuk menghindari delik pers pemerintahan kolonial Belanda dahulu. Bukti bahwa dia berjuang melepaskan diri dari siasat kekangan delik pers Belanda adalah bahwa anak keduanya terlahir di lorong penjara saat harus menjalani hidup di bui antara tahun 1939-1943.
Sebagai penikmat yoga semenjak usia muda yang pada Mei 2000 lalu lututnya pernah terluka gara-gara terjatuh ketika hendak duduk bahkan membuatnya sempat harus dirawat di rumah sakit, Trimurti bisa dengan cepat memulihkan lukanya. Dengan yoga dia kembali dapat dengan mudah memamerkan begitu mudahnya dia mencium lutut. "Saya berlatih yoga sejak muda," jelas anggota Petisi 50 ini.
Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan di lingkungan Jawa dia menentukan sikap untuk tetap sangat tegas terhadap perihal hak-hak perempuan yang dibingkai dengan sopan santun kejawen. Ketegasan itu bukan hanya telah dia contohkan dengan kerelaan melahirkan seorang anak di sebuah lorong penjara, melainkan, terhadap seorang suami Sayuti Melik pun yang karena menikah lagi keduanya harus bercerai dia tetap menaruh rasa hormat sebagai mantan suami.
Kendati sudah berusia uzur Trimurti masih sempat wira-wiri ikut rapat Petisi 50 setiap hari Selasa bahkan terkadang hadir sebagai pembicara di seminar-seminar bertaraf nasional. Beruntunglah terhadap pejuang pers kemerdekaan ini masih Tuhan anugerahkan sebuah kehidupan yang berlimpah sehat walafiat di sebuah rumah sederhana miliknya di Jalan Kramat Lontar H-7 di daerah Kramat, Jakarta.
Di depan rumahnya itu bajaj bebas berseliweran yang suara gaduhnya sesewaktu dapat bercampur dengan suara orang-orang lewat atau anak-anak kecil yang menangis termasuk teriakan ibu-ibu yang memanggil tukang siomai dan bakso, misalnya.
Di rumahnya yang sebagian kamarnya dia sewakan sebagai tempat indekos bagi para karyawati terdapat sebuah ruang tamu tempat menggantung lukisan Semar, tokoh pewayangan setengah dewa setengah manusia dan separuh laki-laki dan separuh perempuan yang dikeramatkan oleh sebagian orang Jawa.
Nah, baru di ruang tengah rumahnya terdapat sebuah gambar ukuran 100x60 centimeter yang melukiskan seorang Presiden Soekarno yang sedang menyematkan Bintang Mahaputra Tingkat V ke dada Trimurti. Dia tercengang mengenang sebentar, "Saya sedang dijothak (didiamkan) Bung Karno waktu itu karena memprotes poligami!" tutur Trimurti yang akhirnya bisa tersenyum menerawang mengingat-ingat kembali tipe Bung Karno seorang lelaki yang karismatik tapi beristri banyak.
Dia mengatakan sesungguhnya sangat loyal terhadap Bung Karno sang guru politik sekaligus orang yang memaksanya untuk pertama kali menulis di majalah Pikiran Rakyat. Proklamator Kemerdekaan dan Presiden R.I. pertama itulah yang telah membuat dia kecemplung ke dunia jurnalisme sebab sebelumnya Trimurti sudah menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar khusus putri di Surakarta dan Banyumas, serta di perguruan rakyat di Bandung.
Satu-satunya persoalan fisik dia yang serius adalah keterbatasan penglihatan mata sebelah kanannya yang merosot karena termakan usia, selebihnya tak ada masalah fisik lain pada perempuan tua namun masih sehat walafiat ini. Bukan peristiwa aneh jika ketika dia sedang berjalan-jalan di sekitar rumah lalu tetangganya melontarkan senyum namun tak sekali pun pernah berbalas.
Persoalannya Trimurti tidak bisa melihat dengan sempurna bukan karena wartawan senior ini sombong. "Wong saya baca saja pake kaca pembesar!" ujarnya penuh rasa humor. ►ht, dari Pantau dan berbagai sumber.
*** (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
====
Pejuang
Dunia Sunyi SK Trimurti
Tubuhnya terkulai di tempat tidur. Selang makan dipasang di lubang hidung. Matanya hampir selalu terpejam. Sesekali suara napasnya meningkahi sunyi ruang VIP Anggrek di RS PGI Cikini, Jakarta, tempat Soerastri Karma Trimurti (95) dirawat tiga pekan terakhir ini.
Ketika Sainah (46) memberi tahu ada yang berkunjung, Bu Tri, begitu ia disapa, mengeluarkan suara yang jelas, dalam bahasa Jawa, "Kowe sapa Ndhuk?" (Kalian siapa, Nak?)
Jawabannya tidak terlalu berarti karena tampaknya ia kembali tenggelam di dalam dunianya yang sunyi, entah di mana. Kadang, seperti diceritakan Sainah, yang mendampinginya 25 tahun terakhir, Bu Tri melantunkan tembang Sigra Milir, lagu Jawa yang syairnya berisi cerita tentang legenda Joko Tingkir.
Kali lain ia menyanyikan lagu-lagu dolanan bocah di Jawa, seperti Ilir-ilir, atau seperti ditirukan Sainah, "Saya lupa judulnya, itu lho... Aduh Yu Truno.. kathokku copot, enggal benekna." (Aduh Yu Truno, celanaku lepas, tolong dibetulkan).
Sesekali Bu Tri membuka matanya, tetapi lalu memejam lagi. Jari-jari tangannya masih bisa menggenggam tangan orang yang menyentuhnya.
Kata Sainah, Bu Tri suka berontak, dengan menggaruk-garuk tubuhnya, dan menarik selang makan. Mungkin karena itu kedua tangannya diikat longgar dengan kain. Posisi tidurnya telentang dengan dua tangan melencang.
Pejuang
Sudah dua tahun terakhir ini perempuan yang pernah menjadi Menteri Perburuhan pada Kabinet Amir Syarifuddin I dan Kabinet Amir Syarifuddin II itu berada dalam kondisi seperti itu, setelah berkali-kali terjatuh. Kata putra bungsunya, Heru Baskoro (65), tahun 2000, Bu Tri jatuh sehingga harus dicangkok besi tulang pinggulnya.
Kerapuhan tubuh ibu dua anak, nenek dua cucu, dan buyut dari satu cicit ini, selain faktor usia, tampaknya juga dipengaruhi peristiwa tabrakan hebat pada tahun 1994. Menurut Heru, mobil sampai harus digergaji untuk mengeluarkan tubuh Bu Tri.
"Orang menyangka Ibu meninggal saat itu," kenang Heru. Bu Tri dirawat berbulan-bulan di rumah sakit, tetapi ia bertahan. Hanya, setelah itu, ia harus memakai tongkat kalau berjalan.
"Sebelum itu, Ibu masih pergi ke mana-mana. Pada usia 82 tahun Ibu masih naik bus," lanjut Heru. "Pekerjaan di rumah juga dilakukan sendiri, cuci piring, cuci baju," ujar Sainah.
Hidupnya sederhana. Sebagai mantan menteri, Bu Tri sebenarnya berhak atas rumah di kawasan Menteng, tetapi ia memilih Jalan Kramat Lontar. "Dekat kampung. Ibu lebih suka tinggal dekat rakyat, dan ia inginnya jadi rakyat biasa. Itu sebabnya, Ibu menolak ketika ditawari menjadi Menteri Sosial," tutur Heru.
Sejak dirawat di rumah sakit tahun 2005 selama setahun, Bu Tri harus dibantu semuanya. "Ibu mau makan?" Sainah menawari, "Aku durung luwe (Aku belum lapar)," jawab Bu Tri. "Kalau makan pakai selang cukup banyak. Kalau langsung, hanya sedikit sekali," lanjut Sainah.
Kata Heru, mengutip diagnosis dokter, di perut ibunya ada semacam varises. "Jantungnya bagus, paru-paru bagus. Ibu sakit tua," katanya.
Ingatan Bu Tri timbul tenggelam. Ia ingat anaknya, tetapi tak ingat cucunya, apalagi cicitnya. "Dia masih ingat Bung Karno dan Ali Sadikin," sambung Heru.
Nama SK Trimurti tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa dan punya tempat khusus dalam sejarah pergerakan perempuan. Putri pasangan R Ngabehi Salim Banjaransari dan RA Saparinten binti Mangunbisomo yang dilahirkan di Boyolali, Jawa Tengah, tanggal 11 Mei 1912 itu tertarik masuk ke dunia pergerakan setelah mendengarkan pidato-pidato Bung Karno.
Ia mengikuti kursus kader yang diadakan Soekarno dan Partindo (Partai Indonesia) tahun 1933 setelah lulus dari Tweede Indlandche School atau Sekolah Ongko Loro dan sempat mengajar. Bu Tri menjadi pejuang militan, sampai dipenjarakan Belanda di Semarang tahun 1936 karena menyebarkan pamflet antipenjajah.
Ia kembali masuk penjara tahun 1939 karena tulisantulisannya di media massa dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Saat itu ia baru setahun menikah dengan Sayuti Melik, tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi, dan mengetik naskah proklamasi.
Anak pertamanya, Moesafir Karma Boediman (meninggal tahun 2005), lahir dalam penjara. Bu Tri baru keluar dari penjara pada tahun 1943.
Dialah perempuan berkebaya yang membelakangi kamera di sebelah kanan Fatmawati Soekarno dalam foto pengibaran Sang Merah Putih seusai pembacaan naskah proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.
Hubungan Bu Tri dengan Bung Karno terganggu ketika Bung Karno menikahi Hartini. Bu Tri dikenal antipoligami. Namun, sikap itu tak menghalangi Soekarno memberikan Bintang Mahaputra Tingkat V kepadanya.
Tahun 1956 ia memimpin Gerakan Wanita Sedar (Gerwis), cikal bakal Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Ia pernah diutus Dewan Perancang Nasional (sekarang Bappenas) ke Yugoslavia untuk mempelajari manajemen pekerja. Kegiatannya hingga usianya mendekati 80 tahun masih penuh. Ia ikut menandatangani Petisi 50 tahun 1980.
Tidur tenang
Sebelum dirawat di RS Cikini, Bu Tri dirawat di RS MMC dan di RS Mitra Keluarga. "Waktu di Mitra Keluarga itu dibantu seluruhnya oleh Pak Fauzi Bowo," ujar Heru.
Biaya rumah sakit pada tahun 2005, menurut Heru, banyak dibantu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Sekretariat Negara, selain bantuan Departemen Sosial. Ketika di RS MMC, keluarga mendapatkan bantuan dari Departemen Sosial sebesar Rp 10 juta.
"Biaya yang sekarang masih belum tahu," ujar Heru. Acara Peluncuran Buku 95 Tahun Perjuangan SK Trimurti yang dihadiri antara lain oleh Guruh Soekarnoputra dan Herawati Diah di Jakarta, beberapa waktu lalu, juga digunakan untuk mengumpulkan dana, dengan menjual edisi hard cover-nya seharga Rp 1 juta per buku.
Sayuti Melik berpulang tahun 1989. "Mungkin Ibu menangis di kamar, tetapi saya tak pernah melihat Ibu menangis di depan umum," ujar Heru.
Sekarang pun, Bu Tri terlihat tidur tenang, seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Hanya sesekali ia kembali dan menggumamkan tembang, lir ilir lir ilir... (Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana P, Kompas, Senin, 10 September 2007)
Drs. Teuku Abdullah, Sm.Hk
Pelestari Sastra Aceh
Alih aksara karya putera Teuku Sulaiman ini sangat penting bagi generasi muda mengingat sebagian besar dari mereka tidak lagi dapat membaca huruf Arab Melayu/Aksara Jawi.
Ayah dari Cut Naila Hafni, T.Idham Khalid dan T.Amalul Arifin buah perkawinannya dengan Mardhiah, ini juga telah menterjemahkan beberapa hikayat antara lain: Hikayat Aulia Tujoh, Hikayat Nabi Yusuf, Hikayat Akhbarul Karim, Hikayat Meudeuhak.
Pada tahun 2001 sastrawan yang tinggal di Nangroe Aceh Darussalam ini juga telah mendapat penghargaan sebagai Berprestasi unggulan peraih Kehati Award 2001 kategori “Citra Lestari Kehati” dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia. ►juka
Nama : Drs Teuku Abdullah,Sm.Hk
Lahir : Pidie-Aceh, 13 September 1954
Agama : Islam
Istri : Mardhiyah
Orang Tua : Teuku Sulaiman
Anak : 1.Cut Naila Hafni
2.T.Idham Khalid
3.T.Amalul Arifin
Pendidikan : Strata-1
Profesi : Sastrawan
Karya-karyanya/Jasa:
= Mengembangkan, mendorong dan melestarikan naskah-bnaskah sastra lama Aceh yang hampir punah
= Mengalihaksarakan 25 judul Hikayat/Tamben/Nazam Aceh, dari huruf Arab Melayu ke huruf Latin.
= Menterjemahkan beberapa Hikayat seperti Hikayat Aulia Tujoh; Hikayat Nabi Yusuf; Hikayat Akhbarul Karim; Hikayat meudeuhak.
Penghargaan:
Bintang Budaya Parama Dharma (Keppres N0.051/TK/Tahun 2003)
Kehati Award 2001 katagori “Citra Lestari kehati” dari Yayaasan Keanekaragaman Hayati Indonesia
Alamat :
Universitas Syahkuala Banda Aceh Nangroe Darussalam
Sumber Data:
Kantor Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata.
Tan Joe Hok
Bahagia, Jadi Kebanggaan Bangsa
Dia punya nama besar sebagai atlet kebanggan negeri ini pada masanya. Dia bahagia dapat mengharumkan nama bangsa. Tan Joe Hok, kelahiran Bandung, 11 Agustus 1937 putra pertama Indonesia yang menjuarai All England (1959) dan meraih medali emas Asian Games (1962). Selain itu, bersama enam pebulu tangkis Indonesia lainnya, merebut Piala Thomas pertama kalinya (1958) dan mempertahankan tahun berikutnya.
Dia seorang pahlawan bulutangkis Indonesia. Bayangkan dia berkorban meninggalkan bangku sekolah demi mengharumkan nama bangsa melalui bulu tangkis. Tan memulai main bulutangkis di jalanan. Ayahnya seorang pedagang yang pemain sepakbola, kemudian melihat bakatnya dan memberi dukungan. Darah pebulu tangkis mengalir dari ibunya, yang juga pebulu tangkis.
Setelah mendapat dukungan dari kedua orangtuanya, prestasi Joe menaik cepat. Pada usia 12, dia berlatih di lapangan yang dibangun ayahnya, di depan rumah mereka. Kemudian, pelatih klub Blue White, Lie Tjuk Kong, mengajaknya bergabung. Dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan berlatih saban hari. Ia selalu bangun pukul 5 pagi, untuk berlari dua jam.
Suatu ketika, anak kedua dari enam bersaudara ini menyaksikan pertandingan tinju di Bandung. Dia sangat terkesan dengan gerak kaki petinju itu. Lalu, dia pun meniru, dengan latihan skipping.
Dalam usia 17, tahun 1954, mulai menunjukkan kehebatannya pada kejuaraan nasional di Surabaya. Dia menundukkan Njo Kiem Bie, pebulu tangkis yang sedang tenar dan terkenal dengan smash-nya yang mematikan saat itu. Dua tahun berikutnya (1956), ia mengalahkan pemain terkenal Eddy Jusuf.
Setelah itu, dia menunjukkan kehebatannya kepada dunia. Dengan mengandalkan stamina dan kecepatan, ia mengalahkan jagoan Denmark Finn Kobbero dan Erland Kops. Lalu bersama enam pebulu tangkis Indonesia lainnya, di antaranya Ferry Sonneville, mereka merebut Piala Thomas.
Pada usia 22 tahun, nama Indonesia dan namanya diulas lumayan panjang di majalah Sports Illustrated, sebuah majalah olahraga bergengsi di Amerika, ketika itu. di All England, Kanada dan AS Terbuka diulas panjang lebar.
Dia pun menjadi kebanggan banyak orang di Indonesia, mulai dari rakyat kecil, tukang becak, sopir, pedagang, mahasiswa, pejabat hingga Saat itu ia merasa menjadi orang yang paling bahagia atas keberhasilannya. Bagaimana Presiden Soekarno ketika itu.
Dia pun berkesempatan ketemu dengan Bung Karno. Saat itu, Bung Karno bilang: "Indonesia punya banyak dokter dan insinyur, tapi hanya sedikit yang seperti kamu. Saya akan dukung kamu."
Pada saat itu, Tan Joe Hok sambil kuliah dan menjadi asisten dosen bidang kimia di Universitas Baylor, Texas, Amerika Serikat. Tapi, dia secara khusus dipanggil pulang ke Indonesia untuk bertarung di arena bulu tangkis di Asian Games 1962 yang berlangsung di Jakarta.
Dia pun meraih medali emas. Saat dia mau kembali melanjutkan kuliahnya ke AS, Bung Karno memberinya selembar cek bernilai US$1.000. Tapi dia bukan mata duitan dan karena merasa punya bekal cukup, ia dengan rendah hati mengembalikan cek itu. Baginya, menjadi putra Indonesia yang dibanggakan lebih berharga dari sejumlah uang.
Sepulang belajar di AS, dia bergabung dengan regu Piala Thomas Indonesia di Tokyo. Dia menjadi bintang dengan mengalahkan Erland Kops dan K.A. Nielsen. Indonesia menang 5x4, Indonesia dan berhasil mempertahankan Piala Thomas, 1964.
Tahun berikutnya, dia menikah dengan Goei Kiok Nio (1965), dan dikaruniai dua anak. setelah itu, pemegang sabuk kuning yudo, ini sempat melatih bulu tangkis di Mexico (1969-1970) dan di Hong Kong (1971).
Lalu tahun 1972, kembali ke Indonesia. Dia pun mendirikan usaha di bidang pest control. Tapi aliran darahnya tidak bisa lepas dari bulu tangkis. Dia tak kuasa menolak manakala ditawari menjadi pelatih Pelatnas Piala Thomas 1984.Sebagai pelatih, di bawah bimbingannya regu bulu tangkis Indonesia berhasil menundukkan Cina dalam final perebutan Piala Thomas di Kuala Lumpur, 18 Mei 1984. Lalu, SIWO/PWI Jaya menganugerahkan penghargaan sebagai Pelatih Olah Raga Terbaik (1984).
Sebagai pelatih, dia bergabung dengan PB Djarum sejak 1982. Kemudian merangkap sebagai project manager cabang PB Djarum di Jakarta. Dia melahirkan beberapa pemain nasional. ► crs
Nama : Tan Joe Hok (Hendra Kartanegara)
Lahir : Bandung, 11 Agustus 1937
Agama : Kristen
Isteri : Goei Kiok Nio (Nikah 1965)
Anak : Dua orang
Pendidikan :
= SD, SMP dan SMA Bandung
= Premedical Major in Chemistry & Biologi Universitas Baylor, Texas, AS (1959-1963)
Karir dan Prestasi:
= Juara Kejurnas Surabaya (1956)
= Anggota Tim Bulu Tangkis Indonesia yang merebut Piala Thomas di Singapura (1958)
= Putra Indonesia pertama menjuarai All England (1959)
= Putra Indonesia pertama meraih medali emas Asian Games (1962)
= Anggota Tim Thomas Cup Indonesia (1964-1967)
= Pelatih bulu tangkis di Meksiko (1969-1970)
= Pelatih bulu tangkis di Hong Kong (1971)
= Pelatih Tim Thomas Cup Indonesia di Kuala Lumpur (1984)
= Pelatih bulu tangkis PB Jarum Kudus
Usaha:Direktur Mandala Pest Control (sejak 1973)
Penghargaan:Pelatih Olah Raga Terbaik oleh SIWO/PWI Jaya (1984)
Alamat Rumah:Jalan Jaya Mandala II No. 2 Pancoran, Jakarta 12870